06
Sep
15

Mari Kita Komunikasikan

“What We’ve got here is failure to communicate”

Pernah denger kata – kata itu? Itu adalah kutipan dari film “Cool Hand Luke” yang sampai sekarang belum berhasil gue tonton sampai selesai.

Tapi gue bukan mau bahas soal film nya, gue mau bicara soal kutipannya. Dari kutipan tersebut gue percaya bahwa kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Artinya komunikasi adalah sesuatu yang tidak terhindarkan.

Tapi coba tebak ada berapa masalah di dunia ini yang terjadi karena masalah komunikasi? Yappp…lebih dari jutaan jumlahnya.

Apalagi kalo udah masuk taraf pasangan. Pacar, selingkuhan, cemceman, TTMan dan seterusnya – seterusnya. Dalam kondisi personal seperti ini komunikasi lewat pertukaran pesan baik itu berupa sms atau chat kadang bisa naik tingakatannya menjadi pertukaran makna. Dimana makna itu sendiri bergantung pada kesepakatan interpretasi ( pemahaman ) kedua belah pihak. Contohnya ketika kata ‘bego’ bisa berubah menjadi panggilan sayang, dan menjadi berasa ada yang something wrong ketika kata itu tidak keluar dalam percakapan.

Menurut gue interpretasi adalah masalah absurd yang kalo bisa tidak masuk wilayah komunikasi. Kabar buruknya, si interpretasi ini justru malah jadi pemeran utama ( cieee…kaya Raisa aja😀 ).

Pernah berantem gara – gara pasangan lagi pengen curhat, kita ngasih jawaban yang serba logis dan tepat kaya Mario Teguh? Aneh kan, curhat berarti punya masalah dan masalah itu harus dipecahkan. Ternyata gak sesederhana itu. Kadang curhat bermakna ingin berbagi cerita saja. Pengen bermanja – manja saja dan mendapat pembelaan. Bukan direndahkan kedewasaanya dengan cara diberikan pencerahan yang dia juga sebenernya sudah tahu. Atau saat ada yang ingin dibujuk ( dibaikin ) sementara yang satunya gak merasa dapat ‘kode’ dari perintah pembujukan. Heyyy…bener gak?? Sorry kalo gue mikirnya telat😀.

Di tengah situasi yang rawan begitu ( lebay banget bilang rawan, kaya ada begal nya aja). SMS, bbm atau chat jangankan yang pendek bahkan yang panjang dan kalau dibikin novel gak cukup dibikin satu buku dan bisa jadi trilogi bahkan tetralogi semisal Supernova nya Dee Lestari atau 1Q84 nya Haruki Murakami ( ini baru lebay ) tetep gagal menyampaikan maksud yang ingin diungkapkan. Akhirnya gue lebih memilih untuk mengkomunikasikan segala sesuatunya lewat audio ( telepon ) atau bahkan audio visual ( ketemu langsung ) jika memungkinkan. Sejujur – jujurnya. Apa yang gue rasa, apa yang gue mau. Karena lewat media itu pertukaran bahasa akan menjadi satu tingkat, lebih jernih dan singkron dengan pertukaran maknanya. Dan gue juga lantas tidak menyisakan residu emosi di hati yang bisa bikin busuk.

Contoh lain, coba baca buku “Writing for emotional impact” nya Karl Iglesias. Disitu dijelasin bahwa dialog adalah pondasi penting dalam sebuah film. Disitu juga ada contoh – contoh dialog dari film – film ajaib semisal Annie Hall, His Girl Friday, atau Silent of The Lamb. Terasa sekali perbedaanya ketika hanya membaca dialognya dengan nonton langsung filmnya. Ekstrimnya boleh tonton filmnya “Jakarta Magrib” dan “Jakarta Hati” Salman Aristo, atau film Indie “Tape”, atau film Korea yang judulnya “Terror Live” yang walaupun isinya hampir semuanya ngomong doang tapi keren banget (IMO).

Satu lagi kenapa gue milih berkomunikasi lewat media tersebut karena gue percaya hati jauh lebih berarti dibandingkan cahaya apapun. Sayang sekali kalo dibikin busuk sama kecurigaan dan suudzon yang gak beralasan.

Dalam prosesnya masih sering gagal, sih. Entah itu karena penyampaian gue nya yang masih lemah, pasangan kita nya udah muak dan males sama semua ocehan kita karena kesalahan yang berulang – ulang. Tapi sekalinya ketemu dan klik, puas banget rasanya. Semua masalah bisa selesai, karena kita bisa omongin dengan jelas.

Jadi, masihkah kamu mau berkomunikasi denganku lewat audio? Cukup buka si hijau bernama “Line” dan tunggu panggilan dariku, toh tidak menghabiskan pulsa dan hanya memakan kuota yang tidak seberapa ( betapa beruntungnya kita hidup di zaman ini ).

Atau jika boleh meminta lebih, ingin rasanya berkomunikasi lewat audio visual. Mau? jika berkenan bolehlah kiranya melirik kalender di dinding dan melingkari tanggalnya untuk bersua.

Tapi yang terpenting marilah kita mengkomunikasikan segala sesuatunya.

NB : Tapi kalo bisa Selasa, Rabu, atau Kamis. Biasa…biar gak di komplain Bos M***shoot😀


0 Responses to “Mari Kita Komunikasikan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


The Dreamer


Blog ini berisi tulisan-tulsan sederhana dari saya
semoga bisa dinikmati dan memberikan pencerahan

Social Media

Twitter Terbaru

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d blogger menyukai ini: