09
Sep
12

Last Letter to Asha

Untukmu Yang Terkasih,

Tuhan sudah mengenalkan padaku arti kata perbedaan sejak aku dilahirkan kedunia ini, karena aku dilahirkan dari manusia yang berjenis kelamin berbeda denganku yang disebut“ Ibu”.

Aku di didik dan dibesarkan dengan ajaran sebuah agama yang begitu menghargai perbedaan, karena utusannya tak pernah membenci dan selalu menghormati orang lain yang berbeda dengan dirinya, aku menyebut utusan itu “Rasul”.

Aku begitu mengagumi negaraku bukan dari kesejahteraan ekonomi atau kemajuan tekhnologinya tapi dari perbedaan dan keberagaman suku, bahasa, budaya dan agama yang menjadi kesatuan sebuah Negara, aku menyebutnya “Bhineka Tunggal Ika”.

Aku dan dirimu adalah dua manusia yang dilahirkan di negeri yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama dan memiliki warna kulit yang sama, yang membedakan kita hanyalah sesuatu yang disebut “Agama”.

Itu semua sudah cukup membuatku semakin mengerti tentang arti kata “Perbedaan”.

Lewat dirimu Aku menjadi tahu bahwa semua agama di dunia ini walaupun berbeda tetap mempunyaI tujuan yang sama yaitu mengajarkan sesuatu yang disebut “Kebajikan”.

Tutur kata, perilaku dan cara berfikirmu semakin membuat kumengerti, menghargai, dan mengagumi makna dari kata yang disebut “Perbedaan”.

Semakin lama semuanya semakin berubah….

Aku kehilangan saudara, sahabat dan kedamaian di negeriku ini oleh sesuatu yang disebut “Perbedaan”.

Tangis dan caci maki antara mereka yang berbeda mengahantarkan kepergian roh-roh yang terpisah dari jasadnya
korban dari sesuatu yang disebut “Perbedaan”.

Lemparan batu, tembakan peluru, dan ledakan bom bunuh diri seolah menjadi definisi paling tepat dari sebuah kata yang disebut “Perbedaan”.

Namun yang paling menyedihkan….

Saat aku kehilangan dirimu, lagi-lagi oleh sebuah kata yang disebut “Perbedaan”.

Hanya karena aku bernama Akbar dan kau bernama Asha…

Hanya karena aku seorang Muslim dan kau seorang Hindu….

Hanya oleh sesuatu yang disebut “Perbedaan”….

Sayangku….
Di saat-saat terakhir kehidupanmu aku ingin tetes air mataku, belaian lembut tanganku di rambutmu dan kecupan hangat di keningmu mengiringi hembusan nafas terakhir yang keluar dari paru-parumu, dan akan kubisikan ditelingamu sebuah puisi sederhana dariku.

Jika hanya binatang yang menghargai perbedaan, aku rela menjadi binatang.

Jika menghargai perbedaan adalah sebuah dosa, aku rela menjadi seorang pendosa.

Aku rela menjadi binatang pendosa hanya untuk dapat mencintaimu.

Selamat jalan sayangku, kaulah anugerah terindah yang Tuhan berikan lewat sesuatu yang disebut “PERBEDAAN”.

Dari orang yang berbeda denganmu dan mencintaimu dengan cara yang berbeda…


0 Responses to “Last Letter to Asha”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


The Dreamer


Blog ini berisi tulisan-tulsan sederhana dari saya
semoga bisa dinikmati dan memberikan pencerahan

Social Media

Twitter Terbaru

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d blogger menyukai ini: